Kamis, 03 Oktober 2013

Datangnya Selalu Belakangan

Bacaan : Mazmur 51 : 1-21

Hsiau Fei adalah mahasiswa yang sebentar lagi akan diwisuda. Ia sangat mendambakan akan dapat hadiah wisuda berupa mobil BMW dari ayahnya, yang adalah pengusaha kaya. Hari yang dinantiinnya pun tiba, setelah diwisuda, ayahnya memberinya kado yang terbungkus rapi. Namun, Hsiau Fei sangat kecewa waktu tahu kalo isi kado itu adalah buku motivasi dan bukan kunci mobil kaya yang diharapkannya. Ia kecewa, marah dan buku itu dibantingnya di hadapan ayahnya. Hsiau Fei pergi meninggalkan ayahnya dan pindah ke kota lain. Bertahun-tahun tanpa kabar mengenai ayahnya, suatu hari ia dapat kabar bahwa ayahnya meninggal. Mendengar kabar tersebut, ia pulang dan betapa terkejutnya ia waktu menemukan kunci BMW dan kwitansi pembayaran mobil di dalam buku motivasi, kado wisudanya dulu. Mendadak tubuhnya lemas ketika menemukan mobil BMW yang kursinya masih tebungkus plastik, terparkir dalam garasi. Ia pun menyesali keputusannya dahulu yang lebih mengutamakan amarahnya.

Penyesalan itu datangnya ga pernah diawal, ia selalu datang diakhir. Itulah yang dirasain sama raja Daud. Bacaan hari ini menceritakan gimana menyesalnya Daud atas perbuatannya yang udah dilakuin gara-gara perasaan sukanya terhadap Batsyeba. Gara-gara perasaan sukanya yang ngga dikendaliin membuat ia berani melakukan hal-hal yang keji di hadapan Allah. Setelah ia mengintip Batsyeba mandi, dihatinya muncul rancangan-rancangan jahat yang akhirnya berdampak pada kematian Uria, suami Batsyeba di medan perang.

Masa lalu ngga akan pernah bisa diperbaiki. Kalo hidupmu ngga mau terjadi banyak penyesalan maka bepikirlah dahulu sebelum bertindak. Tindakan kita hari ini nentuin apa yang akan terjadi di hari esok. (sen)

Devotion : Ngga mau menyesal, maka berpikirlah dahulu sebelum bertindak.

(source : RAM-APR 13)

Saatnya Menuai

Bacaan : Matius 9:35-38

Menurut berita yang ditulis oleh kantor berita Antara, diberitakan bahwa Gubernur Bali Made Mangku Pastika menyayangkan minimnya minat generasi muda Pulau Dewata menjadi petani dan mengelola lahan pertanian. "Di Bali, makin lama kian banyak pemuda tidak mau bertani. Sekarang ini petani umurnya rata-rata di atas 45 tahun," katanya di depan ratusan petani dan nelayan peserta pertemuan Kontrak Tani Nelayan Andalan ke-24, di Semapura, Kabupaten Klungkung. Bahkan menurutnya, ketika dirinya berkeliling di seluruh Bali untuk mencari petani yang muda sudah hampir tidak ada. Penyebabnya bisa jadi karena bertani dipandang sebagai pekerjaan yang berpenghasilan rendah.

Sobat Muda, apa yang dirasain Gubernur Bali itu sebenarnya udah dirasain sama Tuhan Yesus lebih dulu ketika Dia masih pelayanan di bumi. Hal ini jelas banget terlihat dari ucapan-Nya pada nats hari ini "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit." Hal itu dinyatain Yesus karena Dia ngelihat secara langsung akan fakta yang terjadi di lapangannya ketika Yesus masih melayani di bumi. Dia ngelihat banyak jiwa yang terhilang, banyak jiwa yang belum tersentuh kasih-Nya dan banyak jiwa belum terima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidupnya.

Semua orang percaya adalah pekerja-Nya yang bertugas menuai tuaian jiwa-jiwa yang terhilang. Menuai, ngga cuma pekerjaan pendeta, pastur, pelayan Tuhan atau penginjil aja, tapi tugas ini adalah tanggung jawab semua orang percaya. Karena itu, ayo Sobat Muda, jangan lagi kita abaikan tanggung jawab yang udah Tuhan kasih buat semua orang percaya. Ingat, kalo kita ambil bagian dalam pekerjaan ini, ada upah yang akan kita terima dari Sang Big Bos, yakni Tuhan Yesus.(dew)

Devotion : Selagi masih muda, lakukan tanggung jawab ini dan kerjakan dengan segenap hati bagi-Nya.

(source: RAM-APR 13)