Tampilkan postingan dengan label www.renungan-spirit.com. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label www.renungan-spirit.com. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Desember 2013

Before & After

Bacaan: Roma 12:1-2

"Hei, coba liat nih! Asik banget kayanya, ya! Kita musti coba, nih!" seru Mimi si ceriwis sambil menyodorkan selembar brosur kecantikan. Rupanya ada sebuah klinik kecantikan yang baru aja dibuka di dekat kampus kami. Mimi barusan mendapatkan promosinya. Di brosur itu tertera foto "sebelum" dan "sesudah" menjalani terapi kecantikan. Cewek yang semula gemuk jadi langsing. Yang kulitnya bopeng-bopeng jadi mulus. Yang kulitnya hitam jadi putih bersih. Yang botak jadi berambut panjang indah terurai. Pokoknya klinik itu komplit banget fasilitas dan layanannya.

Dengan foto "Before" and "After", banyak orang jadi pengen mencoba terapi di klinik itu. Kalo seandainya gambar sebelum dan sesudah sama aja, nggak jauh bedanya, tentu orang nggak akan berminat buat mengikuti terapi kecantikan itu. Buat apa bayar mahal-mahal kalo hasilnya sama aja.

Sebenernya hidup kita ini bagaikan brosur kecantikan itu. Kita bisa membuat orang tertarik untuk datang kepada Tuhan kalo hidup kita yang sekarang berbeda dari yang dulu. Sejak kita kenal Tuhan dan lahir baru, sikap hidup, tutur kata, perbuatan dan pemikiran kita jadi lebih indah dan nggak amburadul seperti dulu lagi. Perbedaan itu terpancar jelas dalam kehidupan kita. Tanpa perlu bersikap sok rohani pun, orang akan tau ada kemuliaan Tuhan terpancar dari hidup kita sehari-hari. Tapi kalo hidup kita tetep sama hancurnya, nggak mungkin orang akan tertarik untuk mengenal Kristus. Nah, sekarang coba kita cek hidup kita ini. Sudahkah kita menjadi "brosur" yang berguna mengundang orang datang kepada Tuhan? Kalo belum, masih ada kesempatan untuk mengubahnya. Jadilah pribadi yang berbeda setelah mengenal Kristus. (TMS)

Doa Tak Bersyarat

Bacaan: Daniel 3:1-30

Barangkali kita sudah sering mendengar tentang kasih tanpa syarat. Kasih tanpa syarat ditunjukkan oleh orang tua kita kepada kita anak-anaknya. Mereka tetap mengasihi dan merawat kita tidak peduli seperti apa keadaan kita. Kasih tanpa syarat juga ditunjukkan oleh Bapa kita di Sorga. Anugerah keselamatan-Nya diberikan bukan karena kebaikan kita, namun semata-mata karena kemurahan-Nya. Tapi, pernahkah kita mendengar tentang doa tak bersyarat? Itulah doa yang dinaikkan oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego.

Ketika ancaman dapur api sudah di depan mata, dengan lantang mereka berkata,”Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." (Dan. 3:17-18) Bayangkan betapa tersentuhnya hati Tuhan mendengar pengakuan iman seperti itu. Saya membayangkan Sorga langsung gempar! Para malaikat menggeleng-gelengkan kepala dan bersorak sorai, air mata haru Bapa di Sorga menitik di pipi-Nya.


Beranikah kita mengucapkan doa seperti yang diucapkan oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego? Bisakah kita tetap mengucap syukur seandainya jawaban doa Tuhan enggak sesuai dengan harapan kita? Mampukah kita tetap berkata “Tuhan itu baik” meski kenyataannya pahit bagi kita? Kita patut bersyukur memiliki Bapa yang begitu baik. Tuhan tidak pernah meremehkan iman sebesar biji sesawi sekalipun. Ketika kita sungguh-sungguh berdoa dengan iman, mempercayai Tuhan dengan sepenuh hati - maka lihatlah Tuhan justru bekerja dengan cara-Nya yang ajaib menolong dan menyelamatkan kita. Di akhir cerita kita tahu Sadrakh dkk. selamat dari dapur api. Terjemahan King James menyebutkan pengakuan Nebukadnezar ,”Lo, I see four men loose, walking in the midst of the fire, and they have no hurt; and the form of the fourth is like the Son of God.” (Dan.3:25) Orang yang keempat yang dilihat Nebukadnezar dalam perapian itu rupanya seperti Anak Allah. Yesus sendiri hadir menyertai mereka, berjalan di dalam api untuk menyelamatkan mereka. Haleluya!  (TMS)

Disc Clean-Up

Bacaan: Mazmur 26:1-7

Bagi para pengguna Windows, beberapa waktu sekali kita disarankan untuk melakukan “bersih-bersih” sistem komputer. Salah satunya kita bisa memakai ‘disc cleanup’ yang ada dalam system tools di aksesoris. Fungsi tool ini adalah untuk membersihkan file-file yang dianggap tidak perlu seperti mengosongkan recycle bin, temporary files, juga cache dan cookies. Kegiatan bersih-bersih ini bertujuan untuk meringankan beban memory komputer. Kalo dalam komputer kita terlalu banyak file gak penting dan gak kepake yang enggak pernah dibersihkan, jelas ini membuat kinerja komputer kita jadi berat dan lambat.

Dalam hidup ini kita juga harus secara teratur membersihkan diri. Maksudnya bukan cuma mandi 2 kali sehari ato gosok gigi rutin... ini sih juga udah wajib hukumnya. Selain tubuh kita yang harus dijaga kebersihannya, kita juga perlu ngejaga kebersihan hati dan pikiran kita. Coba cek apa aja yang bisa mengotori dan membebani kehidupan kita.

Dendam, sakit hati, rasa minder, ketakutan, trauma, iri hati, curiga, cemburu, adalah contoh-contoh file sampah yang membuat hidup kita jadi berat. Ngapain sih kita menyimpan dengki, dendam dan kebencian? Mending kalo orang yang bikin kita keqi ngerasa, mereka malahan tetap enjoy aja tuh dengan hidup mereka. Makanya, rugi banget kita menyimpan kejengkelan kepada orang lain. Udahlah lepasin aja. Ampuni kesalahan mereka dengan tulus hati, ingat mereka juga manusia - bisa salah juga kan?

Trus, kalo ada ketakutan akan masa depan, trauma masa lalu, gambar diri yang buruk. dsb. juga harus disingkirkan. Serahkan semuanya itu di tangan Tuhan. Belajar melihat dan mendengar pendapat Tuhan tentang diri kita. Enggak perlu menyesali keadaan diri sendiri sehingga kita jadi minder. Ingatlah bahwa di mata Tuhan kita adalah anak-anak-Nya yang berharga dan dikasihi-Nya. Kalo setiap hari sebelum tidur kita melakukan bersih-bersih hati, dijamin hati kita jadi bersih dan hidup kita pun lebih menyenangkan. Katakan pada Tuhan segala isi hatimu dalam doamu, maka Dia akan meluruskan langkahmu dan membersihkan hatimu. (TMS)

Source : http://www.renungan-spirit.com/mudaremaja/disc-clean-up.html

Pesan Terakhir

Bacaan: Kisah Para Rasul 1:8


Bagaimana seandainya kita menjadi orang yang menerima pesan-pesan terakhir dari seseorang menjelang kepergiannya? Misalnya dari kakek-nenek ato dari ortu menjelang detik-detik terakhir hidup mereka. Tentu kita akan mengingat pesan- pesan terakhir itu baik-baik dan sedapat mungkin melaksanakannya. Pesan terakhir yang disampaikan biasanya bersifat penting sehingga umumnya jarang sekali diabaikan begitu saja.

Sebagai anak-anak Tuhan, tahukah kita apa pesan terakhir yang disampaikan Tuhan Yesus menjelang kenaikan-Nya ke Sorga? "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kis.1:7- 8) Tuhan berfirman bahwa kita akan menerima Roh Kudus serta kuasa-Nya dan menjadi saksi-Nya sampai ke ujung bumi. Tuhan ingin kita menjadi saksi bagi-Nya yang menceritakan perbuatan-Nya kepada setiap orang.

So, apakah pesan terakhir itu kita anggap sebagai pesan yang penting? Apakah kita melaksanakan apa yang Dia pesankan kepada kita? Kalo pesan-pesan terakhir yang disampaikan manusia aja bisa kita anggap sebagai hal yang penting, bukankah terlebih lagi seharusnya kita menganggap pesan Tuhan itu sungguh amat penting? Sebagai pengikut Kristus kita punya tugas atau amanat yang harus dilaksanakan. Dimanapun kita berada, apapun yang kita lakukan setiap hari, bagaimanapun kondisi kita, menjadi saksi Kristus adalah kewajiban kita. Intinya dalam market place kita masing-masing, kita tetep wajib melaksanakan the great commission. Setiap orang yang kita jumpai harus merasakan karya Kristus yang nyata dalam perbuatan, perkataan, dan gaya hidup kita. Today, kita diingetin lagi tentang pesan terakhir ini. Marilah kita melaksanakan amanat Tuhan ini sebaik-baiknya. (TMS)

Act of Faith

Bacaan: Kejadian 22:1-19


Sebuah kelompok doa syafaat di Kansas ingin berdoa untuk meminta hujan setelah kemarau berkepanjangan. Menariknya, saat mereka berkumpul bersama untuk berdoa, hanya seorang gadis cilik yang datang dengan membawa payung! Inilah teladan iman. Tuhan Yesus memberitahukan salah satu sikap doa yang berkenan di hadapan Allah adalah dengan percaya bahwa kita telah menerimanya. Kita tidak diperintahkan untuk menipu diri, melainkan percaya.

Orang mungkin akan menganggap kita gila. Perbuatan kita mungkin dianggap ekstrem, namun percayalah selama kita melakukannya karena iman kita kepada Tuhan, sesuai perintah-Nya - “...maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (ay.24b) Bukankah Nuh juga dianggap gila oleh orang-orang sebangsanya? Bayangkan hampir 100 tahun Nuh membangun bahtera sebelum air bah benar-benar dicurahkan oleh Tuhan.

Barangkali Abraham akan dianggap gila bila orang lain tahu dia akan mengorbankan anaknya sendiri. Namun apa ucapan Abraham kepada hambanya sebelum dia mendaki Moria? "Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu." Dan ketika Ishak menanyakan tentang dimana dombanya, maka jawab Abraham adalah "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Dan tepat seperti perkataan dan harapannya, maka Tuhan melakukannya kepada Abraham.

Iman harus disertai tindakan. Kita tidak bisa berkata kepada Tuhan, aku percaya pada-Mu tetapi lakukanlah dulu mujizat itu dalam hidupku - barulah aku bisa percaya. Iman harus kita buktikan lewat sikap dan tindakan kita, mengambil langkah untuk taat meski keadaan nampaknya masih tetap sama. Belajar dari Abraham, Bapa orang beriman yang berani melangkah dalam ketaatan oleh karena iman. Ketika kita berdoa, bersikaplah seakan kita telah menerimanya. Ambillah langkah iman dan perkatakan iman kita setiap hari. (TMS)


Source : http://www.renungan-spirit.com/mudaremaja/act-of-faith.html

Kasih Sejati

Bacaan: 1 Korintus 13:1-10


Apakah dia cocok buatku? Pertanyaan itulah yang sering kita lontarkan kalo mempertimbangkan soal jodoh. Kita menimbang kualitas calon pacar supaya kita enggak kecewa di kelak kemudian hari. Tapi pernahkah kita berpikir,”Apakah aku cocok buat dia?” Apakah kita mempertimbangkan kualifikasi kita sendiri agar memenuhi kebutuhan pasangan kita? Ternyata pertanyaan seperti itu jarang banget kita pikirkan. Ternyata kita egois banget, yah? Kita beranggapan bahwa diri kita ini udah sempurna, sedangkan cowok kita masih perlu memperbaiki diri. Kita ngakunya sayang, tapi ternyata lebih memperhatikan apa yang kita inginkan daripada apa yang diinginkan kekasih kita. Inikah namanya cinta?

Cinta yang sesungguhnya tentu saja enggak seperti itu. Cinta adalah memberikan yang terbaik bagi orang yang kita kasihi, bahkan dengan pengorbanan. Cinta sejati memikirkan kepentingan orang yang kita kasihi. Kita bahkan bersedia mengubah keegoisan kita dengan pengertian dan penerimaan. Kita berupaya menjadi pribadi yang lebih baik, sebagai penolong yang suportif bagi kekasih kita. Kita ingin dapat mengerti dan memahami daripada keinginan untuk dimengerti dan dipahami.

Kalo selama ini kita masih banyak berantem karena saling menuntut untuk dimengerti - periksa baik-baik apakah cinta yang kita berikan ataukah keegoisan yang sedang kita banggakan? Daripada berfokus pada apa yang harus diubah oleh pasangan kita, yuk kita belajar mengubah apa yang harus diubah dalam diri kita sendiri dulu.

So, kalo kita bener-bener mencintai doi, tentu mulai sekarang kita akan belajar berpikir beda. Berhentilah menuntut dan mulailah berubah. Demikian juga dengan kasih kita kepada Tuhan. Jangan selalu menuntut Tuhan untuk ada bagi kita, tapi renungkanlah juga kapan kita ada bagi Dia. Pikirkan cara untuk menyenangkan hati-Nya, karena Dialah kekasih sejati kita. Apa hal-hal yang harus kita ubah dalam diri kita agar kita membuat-Nya tersenyum? Apakah ada kebiasaan dosa yang harus kita buang, kemalasan yang harus kita singkirkan dan tabiat enggak baik yang bisa melukai hati-Nya? Belajar mencintai dengan cara Allah. Karena kasih itu memberi. (TMS)

Source : http://www.renungan-spirit.com/mudaremaja/kasih-sejati.html

The Wedding


Karla menerima undangan yang disodorkan Mimi dengan senyum kecut. Mungkin enggak ada yang memperhatikan perubahan raut wajahnya setiap kali menerima dan membaca wedding invitation dari teman-temannya. Sejak lulus kuliah ampe sekarang ini hampir semua temen-temen ceweknya satu per satu menikah. Dalam hati Karla enggak bisa memungkiri bahwa kekuatiran mulai menghinggapi dirinya. Bayang-bayang bakalan jadi perawan tua seumur hidup, sendirian dan kesepian ampe akhir hayat. Oh God, gue enggak mau ngejomblo begini terus.

Terbayang di benak Karla, saat kondangan nanti semua teman akan menanyainya,"Kapan nyusul? Mana pacarmu?..." Mungkin mereka memang perhatian terhadap dirinya, atau mereka sedang menghinanya secara tersamar, seolah menggaris bawahi bahwa being single tuh berarti something wrong. Kesannya ibarat barang enggak laku-laku, tanpa seorang pun yang melirik apalagi tertarik.

Apakah kamu juga sedang dihinggapi pikiran seperti Karla? Kuatir dengan status lajang yang enggak jelas kapan berakhirnya. Girls, being single is not a wrong thing! Kita enggak perlu merasa malu dan merasa ada yang kurang ketika kita belum menemukan pasangan hidup. Jangan gara-gara takut dibilang enggak laku maka kita asal-asalan memilih teman hidup. Kalo emang saat ini kita belum bertemu dengan orang yang tepat, belajarlah untuk bersabar. Tuhan tahu kok kebutuhan kita tepat pada waktunya.

Menikah adalah keputusan yang sangat penting dalam kehidupan kita. Jangan melakukannya sekedar karena enggak tahan dengan gunjingan masyarakat, kerabat ato bahkan temen-temen kita. Lihatlah dirimu sebagai seorang yang berharga di mata Allah. Tuhan menghendaki kita bersatu dengan orang yang sepadan. Percayalah bahwa soon or later kamu akan bertemu dengan pria yang mengasihi Tuhan dan mengasihimu juga. Just be patient! (TMS)

Source : http://www.renungan-spirit.com/mudaremaja/the_wedding.html

Polisi Tidur

Bacaan: Roma 8:28


Gimana rasanya kalo ngelewatin jalan yang banyak polisi tidurnya? Duh... sebel deh! Kalo bisa mendingan kita pilih lewat jalan lain. Apalagi kalo kita pas kebetulan naik mobil sedan yang pendek, polisi tidur bagaikan momok perusak. Tapi taukah kita untuk apa polisi tidur itu dibuat? Polisi tidur dibuat untuk memaksa pengemudi kendaraan menurunkan kecepatan kendaraannya demi mencegah terjadinya kecelakaan. Biasanya jalanan yang diberi polisi tidur adalah jalan kompleks perumahan yang tentu saja banyak orang berseliweran disana. Meski membuat para pengendara merasa kurang nyaman, tapi polisi tidur bisa mencegah terjadinya kecelakaan.

Saat kita menemui hambatan dalam hidup ini, sadarkah kita bahwa sebenernya beberapa dari hambatan itu bisa merupakan polisi tidur bagi kita. Apa yang nampaknya seperti sebuah penghalang yang memperlambat keberhasilan, ternyata dibuat demi kebaikan kita sendiri. Saat kita putus pacar, saat enggak diterima di univ idaman, saat ekonomi keluarga bangkrut, saat semua nampaknya menghambat cita-cita kita, ternyata enggak sepenuhnya benar.

Meski nampaknya menjadi penghalang, “polisi tidur” ternyata justru membantu kita meraih keberhasilan. Adanya hambatan seringkali membuat pikiran kita menjadi lebih matang. Kita menjadi lebih dewasa dan mandiri. Penghalang juga mengasah kita menjadi lebih kreatif. Kita enggak mundur dan menyerah begitu aja, tapi menciptakan jalan keluar lain yang mungkin enggak terpikirkan sebelumnya. 

Penghalang pun mampu membuat diri kita jadi lebih bijak dan rendah hati. Kita mengakui bahwa ada kuasa yang lebih besar dari diri kita yakni Tuhan, yang bisa melakukan apa aja dalam hidup kita demi kebaikan kita. So, daripada ngedumel saat menemui polisi tidur dalam hidup kita, mendingan kita bersyukur dan melihat sisi positif dari semuanya itu. (TMS)

Source : http://www.renungan-spirit.com/mudaremaja/polisi_tidur.html

Pacaran

Bacaan: 2 Korintus 6:14-18


Pacaran Alkitabiah nggak seh? Seringkali pertanyaan semacam ini muncul di kalangan anak muda. Usut punya usut, ternyata yang namanya pacaran tuh nggak ada dalam Alkitab. Bentuk hubungan pacaran seperti yang kita kenal sekarang ini pun nggak pernah ada dalam jaman Alkitab dulu. Alkitab hanya menyebutkan hubungan pranikah yang ada di kalangan muda waktu itu adalah bentuk hubungan pertunangan.

Jaman emang udah berubah. Kita boleh aja mengikuti perkembangan jaman, tapi prinsip-prinsip kebenaran tetap wajib kita pegang. Prinsip pertama, hubungan pacaran/pranikah harus dengan tujuan menuju ke pernikahan. Kalo kita jalan ama cowok sekedar supaya ada gandengan saat malam minggu ‘n ada yang antar jemput tiap saat, kita udah salah dalam prinsip pertama ini. Jadi nggak ada istilahnya TTM or HTS dalam hubungan pacaran anak-anak Tuhan. Kita harus jadi orang yang punya tujuan pasti. Nggak sekedar “ngalir” n jalani hidup sesukanya.

Prinsip kedua, hubungan pacaran harus dengan orang yang seimbang. Cinta nggak kenal perbedaan, begitu kira-kira kata orang. Tapi soal kehidupan rohani nggak bisa begitu. Terang nggak akan pernah bisa bersatu dengan kegelapan. Pernikahan nantinya nggak cuma sekedar hidup enak ‘n menghasilkan anak. Kalo kita memilih untuk menikah dengan orang yang belum lahir baru, berarti kita memilih untuk mengatur rumah tangga kita sendiri tanpa pertolongan Tuhan. Padahal mana mampu kita mengatasi semuanya sendiri. Tanpa Tuhan kita nggak akan bisa saling mengasihi dengan tulus. Pernikahan akan terancam perceraian bahkan perselingkuhan. Nggak ada perdamaian dan ikatan yang mempersatukan.

Prinsip ketiga, pacaran harus bisa jaga kekudusan. Biarpun jaman udah berubah, tapi untuk urusan kekudusan nggak bisa ditawar-tawar lagi. Belajar jadi seperti keluarga Nuh yang berani tampil beda di tengah-tengah angkatan yang udah rusak hidupnya. Nah, 3 prinsip udah kita pelajari hari ini. Kalo kamu sedang dalam masa pacaran, lakukan 3 prinsip ini supaya hubunganmu diberkati Tuhan. (TMS)


Source : http://www.renungan-spirit.com/mudaremaja/pacaran.html